Senin, 29 September 2014

The Way of My Life

Teet....teeet..
Bel sekolah telah berbunyi, waktunya siswa SMP 5 Madiun menanti pengumuman kelulusan ujian nasional, hari ini adalah hari spesial sekaligus menegangkan bagi sebagian besar siswa di SMPku itu , bukan karena hari ini memikirkan siapa yang menjadi juara umum, namun karena hal yang sangat ditunggu – tunggu yaitu lulus atau tidak.
Setelah hasil pengumuman ditempel dipapan pengumuman, siswa – siswa langsung berhamburan menuju ke tempat tersebut. Sorak sorai gembira siswa SMP 1 Kawedanan, karena di sekolahku diumumkan lulus 100%. Aksi demi aksi mereka luapkan dalam ekspresi yang bermacam – macam, ada yang bersujud syukur, ada yang menangis bahagia, ada juga yang berteriak, “Aku LULUS…”. Namun berbeda dengan aku. Aku hanya tersenyum J melihat pengumuman itu. Hanya ada penyesalan, kekecewaan dan kesedihan setelah melihat hasil itu namun aku tetap bersyukur karena aku lulus juga. “Rasanya aku ingin menangis, ingin aku mengulang waktu yang dulu saat ujian…”, gumamku dalam hati (sambil berlari menuju guru favoritku waktu itu).
Assalamualaikum, Pak…” (sambil mengetuk pintu ruangan kelas)
“Waalaikumsalam, gimana Sinta hasil ujiannya??? (kata Pak Haris)
Aku terdiam dan menunduk, “ Alhamdulillah Pak lulus, tapi…. (sambil meghela nafas)
Tapi kenapa Sin??? Kok malah gitu ekspresinya??? (jawab guruku heran)
“Hasil nilai matematika saya kurang maksimal Pak, belum bisa 100 tapi cuma 97.5”
“Hmm, tak apalah... Sudahlah yang lalu nggak usah difikirkan… Masih ada kesempatan   kok… Lagipula ujian bukan akhir segalanya kok, saya lebih menghargai nilai proses Sinta di kelas daripada hasil ujian itu.” (sambil tersenyum)
“Hehe, iya Pak, terima kasih sarannya Pak. (tersenyum lega)
“Iya sama – sama Sin, yang penting kamu harus lebih rajin lagi ya… (jawab beliau)
“Iya Pak, ya sudah Pak, saya pamit pulang dulu… Assalamualaikum…
“Iya, Waalaikumsalam… hati – hati di jalan ya…
Setelah itu, akupun pulang. Aku tak tau apa yang harus aku katakan kepada orangtuaku atas nilai ini. Semoga aja responnya baik meski tak ada nilai 100nya. (doaku dalam hati).
Sampai dirumah, aku langsung memarkir kendaraanku di halaman rumah dan segera menemui ibuku. Aku langsung memberitahu ibuku, meski dalam hati tersimpan rasa kecewa dan takut.
”Ibu, jumlah nilaiku ujian 36.80 rata-ratanya 9.2, tapi gak ada nilai 10.0nya” kataku
“oh iya nggak apa – apa kok, yang penting kamu lulus dan rata – ratamu kan masih 9.” (kata Ibu)
“Iya buk, maaf ya buk, belum bisa berikan yang terbaik…
“Iya nggak papa kok. (kata Ibu)
Akupun langsung pergi ke kamar. Aku kunci pintu kamarku dan akupun merenung, mengapa aku tak bisa seperti teman – temanku???
Aku hanya bisa menangis dan aku sadar aku tak kan pernah bisa memutar waktu. Saat itu muncullah  pikiran positifku. Andaikan aku  masih seperti dulu, mungkin nilai 7 pun tak dapat aku raih. Akupun teringat masa – masa kelas 9 yang sangat aku sesali, saat itu juga aku tak mendapatkan ranking 3 besar dikelas. Sejak saat itulah aku mulai bangkit. Hanya dengan bekal niatan dan doa yang aku panjatkan kepada Allah, dan aku berjanji kepada diriku agar aku tak mengecewakan orangtuaku lagi.
Saat itu juga, saat aku terpuruk di semester 1 karena kenakalanku, hadir sosok orang yang belum aku kenali. Waktu itu dia sedang bermain ke rumahku bersama kakakku yang sedang kuliah di ISID GONTOR.
Saat itu aku sedang sakit, dan saat itu juga aku sangat benci dengan kakakku dan teman – temannya yang bermain ke rumah. Hal itu terjadi akibat aku pernah dibentak dan dimarahi kakakku saat aku masih pacaran. Namun semua itu aku sesali saat itu juga, karena meskipun dulu memarahi aku tapi aku baru menyadari bahwa semua itu demi kebaikanku. Ketika itu, kakakku menyapaku dengan ramah, “hei Sin, gimana keadaanmu??? Sakit apa Sin??? (sambil berjabat tangan). Sedangkan aku, hanya terdiam dan tersenyum, ibuku yang menjawab pertanyaan kakakku waktu itu. “Itu adik lagi sakit gejala DBD,” (jawab ibu). Kemudian teman – temannya juga berjabat tangan dengan aku. Teman – teman kakakku juga sangat ramah dan baik, salah satunya kak Hafid, kak Nizam, dan Kak Mahmud.
Ketika adzan maghrib berkumandang, dengan segeranya mereka mengambil air wudhu sebelum melaksanakan sholat jama’ah dikamar belakang. Kemudian mereka melanjutkan mengaji hingga selesai sholat isya’. Selepas itu, mereka duduk di pinggirku bersama ibuku, sedangkan aku hanya bisa berbaring ditempat tidur sambil merasakan rasa nyeri ditangan akibat sering disuntik. Hingga akhirnya aku tertidur pulas, dan mereka masih asyik mengobrol dengan ibuku.
Waktu paginya, aku rasa keadaanku mulai membaik dan aku beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju ke ruang makan, aku melihat bapak dan ibuku serta kakak dan teman – temannya makan bersama dimeja makan layaknya keluarga sendiri. Kemudian teman kak Hafid menyapaku, “hei Sin, ayo makan bareng sama kita, enak lho menunya…”. Aku menjawabnya, “iya Kak, makasih…”(sambil berjalan mengambil kamera, karena aku rasa saat itu momen yang menarik menurutku meski keadaanku belum sepenuhnya sehat). Kemudian aku mengambil gambar saat itu, aku merasa sangat senang karena aku melihat senyum dari kedua orangtuaku. Dan akhirnya aku bergabung sarapan pagi dengan mereka, meski dengan lauk seadanya namun rasanya sangat nikmat karena kebersamaan.
Selepas sarapan pagi, kakakku dan teman – temannya pergi bermain ke Telaga Sarangan. Saat itu entah kenapa aku merasa kesepian dan aku memutuskan hubungan dengan kekasihku. Karena aku rasa nggak ada gunanya pacaran, cuman nambahin beban pikiran saja. Dan aku memutuskan untuk mengurangi kontak dengan handphone. Aku aku hanya menonton TV sendirian di rumah, karena ibuku masih menjaga toko, tapi sesekali memantau keadaanku yang ada dirumah sendirian karena tokonya ada didepan rumah.
Hari mulai sore, kakak dan teman – temannya sudah kembali ke rumah. Aku kasihan sama kak Nizam, karena katanya telinganya sakit mungkin akibat kelamaan bermain di air terjun dan udaranya juga sangat dingin di daerah Sarangan, mungkin ia tidak kuat dengan perbedaan tekanan disana yang terlalu tinggi.
Setelah itu, mereka bergegas bergantian mandi dan segera sholat Ashar. Setelah sholat Ashar ibuku pergi ke rumah. “Eh Kak, udah makan siang apa belum??? Kalau belum cepetan makan dulu. Ajak sana teman-temanmu makan… “.
Kakakku menjawab, “Sudah makan semuanya kok bu…”
Kemudian ibu menjawab, “Ya sudah kalau gitu…” (sambil berjalan keluar dari kamar kakakku)
Tapi kakakku meminta Ibu jangan pergi dulu, karena ia dan teman – temannya ingin foto bareng bersama ibuku. “Bu, jangan pergi dulu, kita mau foto-foto bareng sama Ibu…”.
“Oh iya, dimana fotonya???, (sahut Ibu).
“Dikamar saja bu”, (kata kak Zuli).
            Kemudian, prosesi fotopun berjalan lancar. Aku sangat suka dengan action teman – temannya kakakku, layaknya mereka menganggap ibuku sebagai ibunya sendiri. Akupun tertarik untuk membantu memfoto mereka. Saat itu, aku merasa sedih dan bahagia, karena semenjak aku kelas 9 SMP disemester satu aku hanya membuat ibu kesal dan marah serta sedih karena sifatku yang nakal.
            Setelah itu, aku makan siang dan minum obat disuapi oleh ibuku. Habis minum obat akupun langsung istirahat tidur ke kamar.
            Waktu telah sore menjelang malam, akupun terbangun dan suara adzan sholat maghribpun  telah berkumandang. Aku merasa sangat lelah meskipun habis istirahat lama. Setelah selesai sholat jama’ah, kakakku dan teman – temannya pun pamit untuk kembali ke pondok karena waktu malam itu ada absen wajib. Kakakku pun kembali ke pondoknya bersama teman – temannya.
3 hari kemudian, kesehatanku sudah pulih kembali dan akupun mulai masuk sekolah. Kini aku memulai sekolah dengan suasana baru, yaitu aku inginkan focus belajar. Hari ini aku diantar bapak saat berangkat sekolah, karena aku belum mampu naik motor sendiri.
Sesampai disekolah, teman – teman sekelasku menyapaku dengan ramah. Saat itu aku juga beda dari biasanya, yang biasanya bersifat kaku dan kasar. Kini aku lebih menjadi pendiam dan lebih suka membaca buku pelajaran, karena aku merasa banyak materi pelajaran yang tertinggal. Teman sebangkuku, Weny agak heran dengan sikapku karena biasanya aku lebih sering bermain handphone  daripada membaca buku, kemudian Weny menyapaku.
            “Eh tul, tumben kok baca buku???”,( kata Weny keheranan dengan menyapaku dengan nama julukanku).
            “Emangnya kenapa Wen sama aku, aneh ya???”, ( jawabku heran juga).
            “Ya aneh aja, udah tobat ya kamu??? Hahaha”, (ledek Weny).
            “Haha, gitu juga boleh, tobat dari maksiat… hahaha”, (jawabku sambil tertawa).
            “Syukur Alhamdulillah deh kalau udah nyadar, jadi saat ini Sintta yang dulu udah kembali dong???”, jawab Weny sambil tersenyum.
            “Haha iya dong Wen, aku janji deh gak akan nakal lagi kaya dulu, apalagi waktu semester satu. Tau sendiri kan apa yang terjadi???”, tanyaku.
            “Hmm, iya deh Tul aku tau kok… Udahlah yang lalu dijadiin pengalaman aja… Yang lalu biarlah berlalu, kita buka lembaran baru. Namanya juga manusia pasti tak terlepas dari khilaf dan kesalahan…”, (sahut Weny).
            “Hmm, iya mbak Weny… makasih ya hehe…” (jawabku sambil tertawa)
Teet....teeet..
Bel masuk kelas telah berbunyi, saat itu pelajarannya matematika. Guru matematikaku ini sangatlah ditakuti anak – anak, beliau adalah pak Sugeng. Sebelum pak Sugeng masuk, anak – anak sudah bersiap – siap, ada yang ketakutan hingga keluar keringat dingin, ada juga yang kepengin nangis karena takut pelajaran matematika. Tapi aku tenang – tenang saja, karena pak Sugeng sebenarnya baik kok. Lagian meskipun gak masuk beberapa hari tapi sebelum masuk sekolah aku sudah Tanya PR kepada temanku, jadi aku udah ngerjakan tugasnya pak Sugeng.
“Assalamualaikum wr. Wb…”, pak Sugeng masuk ke kelas 9C.
“Waalaikumsalam Wr. Wb,” ( jawab anak – anak dengan serentak tapi dengan perasaan dag dig dug dar ketakutan)
Kemudian pak Sugeng langsung bertanya kepada anak – anak yang seolah – olah sudah menjadi kebiasaan saat awal masuk kelas, “Ada pertanyaan???”
Suasana menjadi hening. Tidak seorang anakpun yang berani berkata – kata menjawab pertanyaan pak Sugeng tadi.
Karena tak ada yang menjawab, pak sugeng bertanya lagi tapi nadanya lebih keras dan agak kasar, “ada pertanyaan???”
Akhirnya akupun menjawab, “a…a…a…ada pak…”(dengan nada takut)
“Ya, Sinta, apa pertanyaannya???”, (jawab pak Sugeng dengan memandangi aku yang ada di bangku).
Soal nomor 3 pak, , ,” jawabku, sebenarnya sih aku bisa, tapi buat jaga – jaga aja biar gak dikeluarin dari kelas… J
“Coba dibaca dahulu soalnya.” (kata pak Sugeng).
“… diukur dari permukaan air laut….”, (jawabku sambil gemetaran).
Lantas, pak sugeng bertanya, “Siapa yang tau permukaan air laut itu berapa???”
Asad menjawab dengan lantang dan gagah : “100 meter pak.”
Pak sugeng : “salah”
Akupun juga menjawab : 100 m..m..meter pak
Pak sugeng : wes meneng, diomongi salah yo salah.(dengan logat bahasa jawa yang sedikit kasar).
Asadpun mengacungkan jari lagi, namun pak sugeng menyuruh anak lainnya yang menjawab.
Setelah beberapa saat kemudian, tak ada satu anakpun yang menjawab. Emosi pak sugengpun mencapai puncaknya.
“Kabeh metu, kecuali Sinta sing takok karo Asad sing jawab karo bocah liyane sing mau ngacung. Aku mulang bocah sing gelem tak ulang ae, liyane metu ae kabeh.”kata pak Sugeng dengan ekspresi marah dan mematikan rokoknya yang sebelumnya menyala.
Akhirnya tinggal beberapa anak saja yang masih tersisa dikelas. Pak Sugeng-pun melanjutkan pelajaran dengan menyelesaikan soal yang aku tanyakan tadi.
Selang beberapa menit, akhirnya soal tadi sudah terselesaikan. Tiba saatnya perjanjian seperti biasanya, bagi siswa yang diluar diberi tahu jawaban dan berbaris rapi didepan pintu dan satu persatu masuk kedalam kelas. Namun, tidak segampang tinggal masuk, tetapi dengan syarat membaca jawaban yang benar dan berjanji akan sanggup menulis seribu kali.
Prosesi perjanjianpun dimulai.
Dimas : “ ketinggian di atas laut adalah 0 meter. Saya sanggup menulis 1000 kali. (dengan menghela nafas lega, karena bisa duduk dibangku lagi).
Pak Sugeng : “selanjutnya…
Tito : “ketinggian di atas laut adalah 0 meter. Saya sanggup menulis 1000 kali. (dengan tampang seperti anak kecil)
Dan akhirnya prosesi itu sudah berlangsung 15 menit, namun baru 17 anak yang masuk kelas. Karena waktu pelajaran hamper habis, maka pak sugeng langsung menyuruh anak yang masih diluar masuk kekelas.
Kemudian, jam pelajaranpun berganti. Saat itu pelajarannya adalah olahraga, karena aku baru sembuh dari sakit maka aku memutuskan untuk izin tidak mengikuti pelajaran olahraga.
Akhirnya bel pulangpun telah berbunyi.akupun berjalan keluar gerbang sekolah dan menanti orang yang menjemputku, biasanya sih karyawan yang kerja ditoko orangtuaku. Setelah hamper 10 menit menunggu, akhirnya jemputanku dating. Sesampai dirumah aku langsung ganti baju dan sholat dhuhur. Setelah sholat akupun makan siang bersama ibu dan minum obat.
Saat makan siang, ibu bertanya padaku, “bagaimana sekolahnya tadi???”
Alhamdulillah tak ada masalah bu, malah tadi aku nggak kena hukumannya pak sugeng.
Ibu merasa senang dan tersenyum bangga kepadaku.
Setelah selesai minum obat akupun istirahat.
Sekitar 2 jam berlalu aku beristirahat jam setengah empat pun ibu membangunkanku.
“Dik bangun, udah sore lho. Ayo mandi kemudian sholat. Kamu ada jadwal les gak hari ini?”kata  Ibu sambil membangunkanku.
“Hmm iya bu… Oh iya hari ini aku ada les fisika bu….”, (akupun langsung bergegas untuk mandi kemudian sholat ashar)
Setelah selesai persiapan, akupun berangkat les diantar sama mas keponakanku yang bekerja dirumahku.
Sesampai ditempat akupun langsung absen finger print dan masuk ke ruangan. Ihhh dingin banget ruangan ini... wah, masih sepi, berarti aku belum telat nih (pikirku dalam hati). 5 menit kemudian temanku datang dan langsung menyapaku…
Hei Sinta, gimana kabarnya??? Katanya sakit, udah sembuh ya???
“Alhamdulillah baik san. Iya kemarin aku sakit, tapi sekarang insyaallah udah sembuh kok hehhe.”
Gimana hubunganmu sama Ulil???
Haha,,, hubungan apa san??? Dah gak ada hubungan apa – apa kok.
“Lah??? Masa sih??? Katanya cinta sampai mati, kok putus ditengah jalan sih??? Jangan bohong deh sama aku. Emangnya kenapa putus???” (Tanya Sandia keheranan).
“Hmm suer deh aku gak bohong, gak kenapa – napa kok cuman gak pengin ngecewain orangtua dan gak mau lagi nambahin beban pikiran karena cinta.” (jawabku sambil tersenyum)
“Hmm syukur deh kalau kamu udah sadar,,, aku seneng deh kamu dah jadi Sinta yang dulu lagi, yang lugu dan pinter.. heheh” (kata Sandia sambil tersenyum).
“Haha, bisa aja kamu San.. makasih ya sarannya selama ini, emang bener sih kata – katamu dulu. Emang kamulah sahabat terbaikku, yang selalu perhatian sama aku dan yang selalu menasehatiku saat aku salah. Makasih ya udah jadi sahabatku selama ini!!!”, (jawabku bahagia)
Selang beberapa menit, ruangan les sudah terisi penuh, dan bel masuk pun berbunyi, tet tet tet…
Mas Tony pun masuk, dan mulai mengajar fisika. Itulah saat – saat yang aku tunggu – tunggu yaitu belajar fisika.
Haripun telah senja dan 90 menit belajarpun telah berlalu, saatnya aku pulang karena pelajaran sudah selesai. Dan bapakku pun telah menungguku didepan tempat les.
Hari ini aku sangat bahagia, karena aku sedikit demi sedikit tlah bisa merubah sikapku yang buruk. Meski belum sempurna kebaikanku ini, namun aku mencoba untuk lebih baik untuk kedepannya, karena aku yakin Allah selalu bersama orang yang sabar. Dan aku yakin sesungguhnya segala sesuatu yang ada di seluruh jagat raya ini sudah diatur secara tertib oleh Allah. Kutebarkan pandanganku maka akan kusaksikan betapa indahnya paduan gunung, lembah, dan ngarai serta luasnya bentangan samudera yang selama ini tertutup kebutaan hati.
 Juga matahari, bulan, bintang dan sejumlah gugusan planet lainnya, semua begitu indah dan tertib, tertata sesuai dengan kebijaksanaan-Nya.
 Maka, kini aku sadar hendaklah aku berusaha supaya menjadi tertib, dalam karsa, rencana, dan atau kehidupanku.  Dan tidak mencoba – coba sesuatu yang buruk dan tak mengulangi kesalahan yang sama.
 Sebab,jika aku melakukan itu, maka yang akan ku dapati hanyalah keresahan, pahitnya kekecewaan, pedihnya kehancuran, kecongkakan dalam kebodohan, kesombongan atas kesintingan dan kebanggaan lantaran kegilaanku. Dan penyakit inilah yang telah melandaku saat itu.
Ahh, entahlah… hari telah gelap, besok aku harus sekolah… huaafffttt,,, ngantuk banget rasanya mataku ini. Aku tidur dulu ah, ntar pagi belajar…
Sejak saat itulah aku berusaha belajar dan belajar memperbaiki diri, aku kini menyadari semuanya, bahwa aku hendaknya selalu berfikir panjang sebelum bertindak, agar tak ada penyesalan setelah terlanjur melakukan hal yang tak diinginkan. Kini aku memutuskan untuk sekolah di pondok, ibuku sempat kaget mendengar itu, tapi aku yakinkan ibuku dengan niat baikku ini. Akhirnya ibuku pun mengizinkanku untuk mondok. Dan sekarang aku telah menjadi santriwati di pondok pesantren darul ulum. Aku diterima disekolah favorit di pondok itu yaitu Sma Darul Ulum 2 Unggulan BPPT Cambridge International School, Jombang.
Mungkin aku yang sekarang beda banget sama aku yang dulu. Kini aku sudah belajar mengaji walau memulai dari nol. Banyak pelajaran hidup yang aku temui disini, ada kalanya aku senang dan ada kalanya aku sedih. Hmm, maklum namanya juga hidup, kan hidup merupakan ujian. Kini aku telah memiliki tujuan hidup, yaitu beribadah, karena dalam al qur’an pun telah dijelaskan. Semua aku lakukan karena Allah dengan niatan ibadah kepada allah.
Kehidupan di pondok ini, bagaikan kehidupan di masyarakat kecil. Setidaknya aku bisa belajar hidup dari sini, belajar dari segala perbedaan – perbedaan yang ada, dan mengambil sikap di setiap kondisi.
Seiring perjalanan waktu, suatu saat nanti aku akan meninggalkan pondokku ini untuk terjun ke tangah-tengah kehidupan masyarakat kelak, berbaur dengan aneka ragam pola kehidupan.
 Harapanku, ku bisa tepat membawa diri berbuat baik di bumi di mana kakiku berpijak.
 Selama ini aku memang menyaksikan bahwa ku telah berbuat baik, mentaati segala petuah dan nasehat kyaiku, menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya, namun yang aku khawatirkan adalah, jika  semua kebajikan itu hanyalah di tengah-tengah milliu yang baik saja karena keadaan, sementara ketika ku telah terjun ke dalam milliu yang berlainan, jadi berubah keadaannya.
 Padahal, berbuat baik itu harus bisa kau lakukan di manapun dan kapanpun. Pada saat itulah kepribadianku akan diuji, dan di situlah kepribadianku akan dipecat atau dipertahankan oleh diriku sendiri atau oleh masyarakat dengan segala norma-normanya. Itulah yang paling aku khawatirkan. Akupun termenung menuliskan sebuah kata - kata sederhana tentang perjalanan hidupku ini.
 Aku takut jika derasnya gelombang kehidupan di masyarakat kelak akan menyeret dan menjerumuskanku ke lembah nista. Telah ku sadari bahwa orang baik yang bertempat di sampah sekalipun akan berjasa dan mulia karena ia telah menyingkirkan sampah yang mengganggu masyarakat. Namun sebaliknya, orang yang jahat sekalipun bertahta di tempat terhormat ia adalah perusak dan pengacau masyarakat. Karena ia sebetulnya adalah sampah.
Ketahuilah, bahwa kini, di abad modern ini, setan-setan dengan segala bentuk dan macamnya telah bergentayangan di mana-mana dan untuk berkawan dengan mereka, kau tak perlu belajar ataupun berlatih.
 Dan godaan setan itu sungguh akan memikat hatiku. Ia tidaklah akan berhenti pada sasaran tertentu, golongan tertentu, dan juga waktu serta tempat tertentu. Maka ku harus berhati-hati dan berwaspada terhadap itu semua.

Kini aku bahagia, telah menikmati kehidupan baru. Kehidupan yang sebelumnya tak terlintas dalam fikirku. Dan kini aku ingin lebih baik dari masa lalu. Bagiku, pengalaman adalah guru yang terbaik dan belajar dari pengalaman sangatlah berharga bagiku. Hari ini haruslah lebih baik dari hari kemarin. Kemarin adalah pengalaman, besok adalah harapan dan hari ini adalah kenyataan. Dan saat ini, aku belajar banyak tentang kehidupan kepada kakakku dan teman – temannya yang selalu siap mendengarkan curhatanku. Dan kedua orangtuaku yang selalu memberiku semangat menjalani hidup ini. Dan tunggu kisahku nantinya...

Hari-Hari Itu Indah

Dalam hari-hariku ini aku ingin bebas bagaikan burung yang terbang di langit biru. Meski dalam hidupku tak ada cinta dari orang lain seperti kekasih atau apalah itu namanya, namun aku senang menjalani hidup ini, karena cinta Allah dan orangtua selalu menyertai hari-hariku. Dalam hidup ini aku terkadang merasa senang dan terkadang merasa sedih. Hal ini wajar aku alami, karena aku hanyalah manusia biasa yang tak luput dari masalah. Banyak permasalahan hidup yang aku hadapi, seperti masalah dengan teman sebaya, kakak kelas, adik kelas, maupun guru, ustadz dan ustadzah bahkan orang tua. Namun, insyaallah semua permasalahan itu dapat aku hadapi dengan bantuan Allah SWT. Timbul keyakinan dalam diriku, bahwa Allah tak akan memberikan ujian diluar kemampuan hamba-Nya. Karena keyakinan itulah kedewasaanku tumbuh dengan sendirinya, dan semoga lebih kearah yang positif. Aamiin

                Banyak teman, sahabat yang selalu mewarnai hari-hariku dipondok ini. Namun, diantara banyaknya teman disini tak mengalahkan kekuatan yang diberikan oleh sahabatku sendiri. Namun, kekuatan yang diberikan Allah-lah yang paling besar dalam hidup saya. Hingga detik ini, saya bisa mensyukuri nikmat atas karunia_Nya yang telah diberikan kepadaku...