Teet....teeet..
Bel sekolah telah berbunyi, waktunya siswa SMP 5 Madiun
menanti pengumuman kelulusan ujian nasional, hari ini adalah hari spesial
sekaligus menegangkan bagi sebagian besar siswa di SMPku itu , bukan karena
hari ini memikirkan siapa yang menjadi juara umum, namun karena hal yang sangat
ditunggu – tunggu yaitu lulus atau tidak.
Setelah hasil pengumuman ditempel dipapan pengumuman, siswa
– siswa langsung berhamburan menuju ke tempat tersebut. Sorak sorai gembira
siswa SMP 1 Kawedanan, karena di sekolahku diumumkan lulus 100%. Aksi demi aksi
mereka luapkan dalam ekspresi yang bermacam – macam, ada yang bersujud syukur,
ada yang menangis bahagia, ada juga yang berteriak, “Aku LULUS…”. Namun
berbeda dengan aku. Aku hanya tersenyum J melihat pengumuman itu. Hanya ada penyesalan, kekecewaan dan kesedihan
setelah melihat hasil itu namun aku tetap bersyukur karena aku lulus juga. “Rasanya
aku ingin menangis, ingin aku mengulang waktu yang dulu saat ujian…”, gumamku
dalam hati (sambil berlari menuju guru favoritku waktu itu).
“Assalamualaikum, Pak…” (sambil mengetuk pintu ruangan
kelas)
“Waalaikumsalam, gimana Sinta hasil ujiannya??? (kata Pak Haris)
Aku terdiam dan menunduk, “ Alhamdulillah Pak lulus, tapi…. (sambil meghela nafas)
“Tapi kenapa Sin??? Kok malah gitu ekspresinya??? (jawab
guruku heran)
“Hasil nilai matematika saya kurang maksimal Pak, belum bisa
100 tapi cuma 97.5”
“Hmm, tak apalah... Sudahlah yang lalu nggak usah
difikirkan… Masih ada kesempatan kok…
Lagipula ujian bukan akhir segalanya kok, saya lebih menghargai nilai proses
Sinta di kelas daripada hasil ujian itu.” (sambil tersenyum)
“Hehe, iya Pak, terima kasih sarannya Pak. (tersenyum lega)
“Iya sama – sama Sin, yang
penting kamu harus lebih rajin lagi ya… (jawab beliau)
“Iya Pak, ya sudah Pak, saya pamit pulang dulu… Assalamualaikum…
“Iya, Waalaikumsalam… hati – hati di jalan ya…
Setelah itu, akupun pulang. Aku tak tau apa yang harus aku
katakan kepada orangtuaku atas nilai ini. Semoga aja responnya baik meski tak
ada nilai 100nya. (doaku dalam hati).
Sampai dirumah, aku langsung memarkir kendaraanku di halaman
rumah dan segera menemui ibuku. Aku langsung memberitahu ibuku, meski dalam
hati tersimpan rasa kecewa dan takut.
”Ibu, jumlah nilaiku ujian 36.80 rata-ratanya 9.2, tapi gak
ada nilai 10.0nya” kataku
“oh iya nggak apa – apa kok, yang penting kamu lulus dan
rata – ratamu kan masih 9.” (kata Ibu)
“Iya buk, maaf ya buk, belum bisa berikan yang terbaik…
“Iya nggak papa kok. (kata Ibu)
Akupun langsung pergi ke kamar. Aku kunci pintu kamarku dan
akupun merenung, mengapa aku tak bisa seperti teman – temanku???
Aku hanya bisa menangis dan aku sadar aku tak kan pernah
bisa memutar waktu. Saat itu muncullah pikiran
positifku. Andaikan aku masih seperti
dulu, mungkin nilai 7 pun tak dapat aku raih. Akupun teringat masa – masa kelas
9 yang sangat aku sesali, saat itu juga aku tak mendapatkan ranking 3 besar
dikelas. Sejak saat itulah aku mulai bangkit. Hanya dengan bekal niatan dan doa
yang aku panjatkan kepada Allah, dan aku berjanji kepada diriku agar aku tak
mengecewakan orangtuaku lagi.
Saat itu juga, saat aku terpuruk di
semester 1 karena kenakalanku, hadir sosok orang yang belum aku kenali. Waktu
itu dia sedang bermain ke rumahku bersama kakakku yang sedang kuliah di ISID
GONTOR.
Saat itu aku sedang sakit, dan saat itu
juga aku sangat benci dengan kakakku dan teman – temannya yang bermain ke
rumah. Hal itu terjadi akibat aku pernah dibentak dan dimarahi kakakku saat aku
masih pacaran. Namun semua itu aku sesali saat itu juga, karena meskipun dulu
memarahi aku tapi aku baru menyadari bahwa semua itu demi kebaikanku. Ketika
itu, kakakku menyapaku dengan ramah, “hei Sin, gimana keadaanmu??? Sakit apa
Sin??? (sambil berjabat tangan). Sedangkan aku, hanya terdiam dan
tersenyum, ibuku yang menjawab pertanyaan kakakku waktu itu. “Itu adik lagi
sakit gejala DBD,” (jawab ibu). Kemudian teman – temannya juga berjabat
tangan dengan aku. Teman – teman kakakku juga sangat ramah dan baik, salah
satunya kak Hafid, kak Nizam, dan Kak Mahmud.
Ketika adzan maghrib berkumandang,
dengan segeranya mereka mengambil air wudhu sebelum melaksanakan sholat jama’ah
dikamar belakang. Kemudian mereka melanjutkan mengaji hingga selesai sholat
isya’. Selepas itu, mereka duduk di pinggirku bersama ibuku, sedangkan aku
hanya bisa berbaring ditempat tidur sambil merasakan rasa nyeri ditangan akibat
sering disuntik. Hingga akhirnya aku tertidur pulas, dan mereka masih asyik mengobrol
dengan ibuku.
Waktu paginya, aku rasa keadaanku mulai membaik dan aku
beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju ke ruang makan, aku melihat bapak
dan ibuku serta kakak dan teman – temannya makan bersama dimeja makan layaknya
keluarga sendiri. Kemudian teman kak Hafid menyapaku, “hei Sin, ayo makan
bareng sama kita, enak lho menunya…”. Aku menjawabnya, “iya Kak,
makasih…”(sambil berjalan mengambil kamera, karena aku rasa saat itu momen
yang menarik menurutku meski keadaanku belum sepenuhnya sehat). Kemudian aku
mengambil gambar saat itu, aku merasa sangat senang karena aku melihat senyum
dari kedua orangtuaku. Dan akhirnya aku bergabung sarapan pagi dengan mereka,
meski dengan lauk seadanya namun rasanya sangat nikmat karena kebersamaan.
Selepas sarapan pagi, kakakku dan teman – temannya pergi bermain ke Telaga
Sarangan. Saat itu entah kenapa aku merasa kesepian dan aku memutuskan hubungan
dengan kekasihku. Karena aku rasa nggak ada gunanya pacaran, cuman nambahin
beban pikiran saja. Dan aku memutuskan untuk mengurangi kontak dengan handphone.
Aku aku hanya menonton TV sendirian di rumah, karena ibuku masih menjaga toko,
tapi sesekali memantau keadaanku yang ada dirumah sendirian karena tokonya ada
didepan rumah.
Hari mulai sore, kakak dan teman – temannya sudah kembali ke
rumah. Aku kasihan sama kak Nizam, karena katanya telinganya sakit mungkin
akibat kelamaan bermain di air terjun dan udaranya juga sangat dingin di daerah
Sarangan, mungkin ia tidak kuat dengan perbedaan tekanan disana yang terlalu tinggi.
Setelah itu,
mereka bergegas bergantian mandi dan segera sholat Ashar. Setelah sholat Ashar
ibuku pergi ke rumah. “Eh Kak, udah makan siang apa belum??? Kalau belum
cepetan makan dulu. Ajak sana teman-temanmu makan… “.
Kakakku menjawab,
“Sudah makan semuanya kok bu…”
Kemudian ibu
menjawab, “Ya sudah kalau gitu…” (sambil berjalan keluar dari kamar
kakakku)
Tapi kakakku
meminta Ibu jangan pergi dulu, karena ia dan teman – temannya ingin foto bareng
bersama ibuku. “Bu, jangan pergi dulu, kita mau foto-foto bareng sama Ibu…”.
“Oh iya, dimana fotonya???, (sahut Ibu).
“Dikamar saja bu”, (kata kak Zuli).
Kemudian, prosesi fotopun berjalan
lancar. Aku sangat suka dengan action teman – temannya kakakku, layaknya mereka
menganggap ibuku sebagai ibunya sendiri. Akupun tertarik untuk membantu memfoto
mereka. Saat itu, aku merasa sedih dan bahagia, karena semenjak aku kelas 9 SMP
disemester satu aku hanya membuat ibu kesal dan marah serta sedih karena
sifatku yang nakal.
Setelah itu, aku makan siang dan
minum obat disuapi oleh ibuku. Habis minum obat akupun langsung istirahat tidur
ke kamar.
Waktu telah sore
menjelang malam, akupun terbangun dan suara adzan sholat maghribpun telah berkumandang. Aku merasa sangat lelah
meskipun habis istirahat lama. Setelah selesai sholat jama’ah, kakakku dan
teman – temannya pun pamit untuk kembali ke pondok karena waktu malam itu ada
absen wajib. Kakakku pun kembali ke pondoknya bersama teman – temannya.
3 hari kemudian, kesehatanku sudah pulih kembali dan akupun mulai masuk
sekolah. Kini aku memulai sekolah dengan suasana baru, yaitu aku inginkan focus
belajar. Hari ini aku diantar bapak saat berangkat sekolah, karena aku belum
mampu naik motor sendiri.
Sesampai disekolah, teman – teman sekelasku menyapaku dengan ramah. Saat
itu aku juga beda dari biasanya, yang biasanya bersifat kaku dan kasar. Kini
aku lebih menjadi pendiam dan lebih suka membaca buku pelajaran, karena aku
merasa banyak materi pelajaran yang tertinggal. Teman sebangkuku, Weny agak
heran dengan sikapku karena biasanya aku lebih sering bermain handphone daripada membaca buku, kemudian Weny
menyapaku.
“Eh tul, tumben kok baca
buku???”,( kata Weny keheranan dengan menyapaku dengan nama
julukanku).
“Emangnya kenapa Wen sama aku,
aneh ya???”, ( jawabku heran juga).
“Ya aneh aja, udah tobat ya
kamu??? Hahaha”, (ledek Weny).
“Haha, gitu juga boleh, tobat
dari maksiat… hahaha”, (jawabku sambil tertawa).
“Syukur Alhamdulillah deh kalau
udah nyadar, jadi saat ini Sintta yang dulu udah kembali dong???”, jawab
Weny sambil tersenyum.
“Haha iya dong Wen, aku janji deh
gak akan nakal lagi kaya dulu, apalagi waktu semester satu. Tau sendiri kan apa
yang terjadi???”, tanyaku.
“Hmm, iya deh Tul aku tau kok…
Udahlah yang lalu dijadiin pengalaman aja… Yang lalu biarlah berlalu, kita buka
lembaran baru. Namanya juga manusia pasti tak terlepas dari khilaf dan
kesalahan…”, (sahut Weny).
“Hmm, iya mbak Weny… makasih ya
hehe…” (jawabku sambil tertawa)
Teet....teeet..
Bel masuk kelas
telah berbunyi, saat itu pelajarannya matematika. Guru matematikaku ini
sangatlah ditakuti anak – anak, beliau adalah pak Sugeng. Sebelum pak Sugeng
masuk, anak – anak sudah bersiap – siap, ada yang ketakutan hingga keluar
keringat dingin, ada juga yang kepengin nangis karena takut pelajaran
matematika. Tapi aku tenang – tenang saja, karena pak Sugeng sebenarnya baik
kok. Lagian meskipun gak masuk beberapa hari tapi sebelum masuk sekolah aku
sudah Tanya PR kepada temanku, jadi aku udah ngerjakan tugasnya pak Sugeng.
“Assalamualaikum wr. Wb…”, pak Sugeng masuk ke kelas 9C.
“Waalaikumsalam Wr. Wb,” ( jawab
anak – anak dengan serentak tapi dengan perasaan dag dig dug dar ketakutan)
Kemudian pak Sugeng langsung bertanya kepada anak – anak yang seolah – olah
sudah menjadi kebiasaan saat awal masuk kelas, “Ada pertanyaan???”
Suasana menjadi hening. Tidak seorang anakpun yang berani berkata – kata
menjawab pertanyaan pak Sugeng tadi.
Karena tak ada yang menjawab, pak sugeng bertanya lagi tapi nadanya lebih keras
dan agak kasar, “ada pertanyaan???”
Akhirnya akupun menjawab, “a…a…a…ada pak…”(dengan nada takut)
“Ya, Sinta, apa pertanyaannya???”, (jawab pak Sugeng dengan memandangi aku yang ada di bangku).
Soal nomor 3 pak, , ,” jawabku, sebenarnya sih aku bisa, tapi buat jaga –
jaga aja biar gak dikeluarin dari kelas… J
“Coba dibaca dahulu soalnya.” (kata pak Sugeng).
“… diukur dari permukaan air laut….”, (jawabku sambil gemetaran).
Lantas, pak sugeng bertanya, “Siapa yang tau permukaan air laut itu
berapa???”
Asad menjawab dengan lantang dan gagah : “100 meter pak.”
Pak sugeng : “salah”
Akupun juga menjawab : 100 m..m..meter pak
Pak sugeng : wes meneng, diomongi salah yo salah.(dengan logat bahasa jawa
yang sedikit kasar).
Asadpun mengacungkan jari lagi, namun pak sugeng menyuruh anak lainnya
yang menjawab.
Setelah beberapa saat kemudian, tak ada satu anakpun yang menjawab. Emosi
pak sugengpun mencapai puncaknya.
“Kabeh metu, kecuali Sinta sing takok karo Asad sing jawab karo bocah
liyane sing mau ngacung. Aku mulang bocah sing gelem tak ulang ae, liyane metu
ae kabeh.”kata pak Sugeng dengan ekspresi marah dan mematikan rokoknya yang
sebelumnya menyala.
Akhirnya tinggal beberapa anak saja yang masih tersisa dikelas. Pak
Sugeng-pun melanjutkan pelajaran dengan menyelesaikan soal yang aku tanyakan
tadi.
Selang beberapa menit, akhirnya soal tadi sudah terselesaikan. Tiba
saatnya perjanjian seperti biasanya, bagi siswa yang diluar diberi tahu jawaban
dan berbaris rapi didepan pintu dan satu persatu masuk kedalam kelas. Namun,
tidak segampang tinggal masuk, tetapi dengan syarat membaca jawaban yang benar
dan berjanji akan sanggup menulis seribu kali.
Prosesi perjanjianpun dimulai.
Dimas : “ ketinggian di atas laut adalah 0 meter. Saya sanggup menulis
1000 kali. (dengan menghela nafas lega, karena bisa duduk dibangku lagi).
Pak Sugeng : “selanjutnya…
Tito : “ketinggian di atas laut adalah 0 meter. Saya sanggup menulis 1000
kali. (dengan tampang seperti anak kecil)
Dan akhirnya prosesi itu sudah berlangsung 15 menit, namun baru 17 anak
yang masuk kelas. Karena waktu pelajaran hamper habis, maka pak sugeng langsung
menyuruh anak yang masih diluar masuk kekelas.
Kemudian, jam pelajaranpun berganti. Saat itu pelajarannya adalah olahraga,
karena aku baru sembuh dari sakit maka aku memutuskan untuk izin tidak
mengikuti pelajaran olahraga.
Akhirnya bel pulangpun telah berbunyi.akupun berjalan keluar gerbang
sekolah dan menanti orang yang menjemputku, biasanya sih karyawan yang kerja
ditoko orangtuaku. Setelah hamper 10 menit menunggu, akhirnya jemputanku
dating. Sesampai dirumah aku langsung ganti baju dan sholat dhuhur. Setelah
sholat akupun makan siang bersama ibu dan minum obat.
Saat makan siang, ibu bertanya padaku, “bagaimana sekolahnya tadi???”
Alhamdulillah tak ada masalah bu, malah tadi aku nggak kena hukumannya pak
sugeng.
Ibu merasa senang dan tersenyum bangga kepadaku.
Setelah selesai minum obat akupun istirahat.
Sekitar 2 jam berlalu aku beristirahat jam setengah empat pun ibu
membangunkanku.
“Dik bangun, udah sore lho. Ayo mandi kemudian sholat. Kamu ada jadwal les
gak hari ini?”kata Ibu sambil
membangunkanku.
“Hmm iya bu… Oh iya hari ini aku ada les fisika bu….”, (akupun langsung
bergegas untuk mandi kemudian sholat ashar)
Setelah selesai persiapan, akupun berangkat les diantar sama mas
keponakanku yang bekerja dirumahku.
Sesampai ditempat akupun langsung absen finger print dan masuk ke ruangan.
Ihhh dingin banget ruangan ini... wah, masih sepi, berarti aku belum telat nih
(pikirku dalam hati). 5 menit kemudian temanku datang dan
langsung menyapaku…
“Hei Sinta, gimana kabarnya??? Katanya sakit, udah sembuh ya???
“Alhamdulillah baik san. Iya kemarin aku sakit, tapi sekarang insyaallah
udah sembuh kok hehhe.”
Gimana hubunganmu sama Ulil???
Haha,,, hubungan apa san??? Dah gak ada hubungan apa – apa kok.
“Lah??? Masa sih??? Katanya cinta sampai mati, kok putus ditengah jalan
sih??? Jangan bohong deh sama aku. Emangnya kenapa putus???” (Tanya Sandia
keheranan).
“Hmm suer deh aku gak bohong, gak kenapa – napa kok cuman gak pengin
ngecewain orangtua dan gak mau lagi nambahin beban pikiran karena cinta.”
(jawabku sambil tersenyum)
“Hmm syukur deh kalau kamu udah sadar,,, aku seneng deh kamu dah jadi Sinta
yang dulu lagi, yang lugu dan pinter.. heheh” (kata Sandia sambil tersenyum).
“Haha, bisa aja kamu San.. makasih ya sarannya selama ini, emang bener sih
kata – katamu dulu. Emang kamulah sahabat terbaikku, yang selalu perhatian sama
aku dan yang selalu menasehatiku saat aku salah. Makasih ya udah jadi sahabatku
selama ini!!!”, (jawabku bahagia)
Selang beberapa menit, ruangan les sudah terisi penuh, dan bel masuk pun
berbunyi, tet tet tet…
Mas Tony pun
masuk, dan mulai mengajar fisika. Itulah saat – saat yang aku tunggu – tunggu
yaitu belajar fisika.
Haripun telah senja dan 90 menit belajarpun telah berlalu, saatnya aku
pulang karena pelajaran sudah selesai. Dan bapakku pun telah menungguku didepan
tempat les.
Hari ini aku
sangat bahagia, karena aku sedikit demi sedikit tlah bisa merubah sikapku yang
buruk. Meski belum sempurna kebaikanku ini, namun aku mencoba untuk lebih baik
untuk kedepannya, karena aku yakin Allah selalu bersama orang yang sabar. Dan
aku yakin sesungguhnya segala sesuatu yang ada di seluruh jagat raya ini sudah
diatur secara tertib oleh Allah. Kutebarkan pandanganku maka akan kusaksikan
betapa indahnya paduan gunung, lembah, dan ngarai serta luasnya bentangan
samudera yang selama ini tertutup kebutaan hati.
Juga matahari, bulan, bintang dan sejumlah
gugusan planet lainnya, semua begitu indah dan tertib, tertata sesuai dengan
kebijaksanaan-Nya.
Maka, kini aku sadar hendaklah aku berusaha
supaya menjadi tertib, dalam karsa, rencana, dan atau kehidupanku. Dan tidak mencoba – coba sesuatu yang buruk
dan tak mengulangi kesalahan yang sama.
Sebab,jika aku melakukan itu, maka yang akan ku
dapati hanyalah keresahan, pahitnya kekecewaan, pedihnya kehancuran,
kecongkakan dalam kebodohan, kesombongan atas kesintingan dan kebanggaan
lantaran kegilaanku. Dan penyakit inilah yang telah melandaku saat itu.
Ahh, entahlah… hari telah gelap, besok aku harus sekolah… huaafffttt,,,
ngantuk banget rasanya mataku ini. Aku tidur dulu ah, ntar pagi belajar…
Sejak saat
itulah aku berusaha belajar dan belajar memperbaiki diri, aku kini menyadari
semuanya, bahwa aku hendaknya selalu berfikir panjang sebelum bertindak, agar
tak ada penyesalan setelah terlanjur melakukan hal yang tak diinginkan. Kini
aku memutuskan untuk sekolah di pondok, ibuku sempat kaget mendengar itu, tapi
aku yakinkan ibuku dengan niat baikku ini. Akhirnya ibuku pun mengizinkanku
untuk mondok. Dan sekarang aku telah menjadi santriwati di pondok pesantren
darul ulum. Aku diterima disekolah favorit di pondok itu yaitu Sma Darul Ulum 2
Unggulan BPPT Cambridge International School, Jombang.
Mungkin aku
yang sekarang beda banget sama aku yang dulu. Kini aku sudah belajar mengaji
walau memulai dari nol. Banyak pelajaran hidup yang aku temui disini, ada
kalanya aku senang dan ada kalanya aku sedih. Hmm, maklum namanya juga hidup,
kan hidup merupakan ujian. Kini aku telah memiliki tujuan hidup, yaitu
beribadah, karena dalam al qur’an pun telah dijelaskan. Semua aku lakukan
karena Allah dengan niatan ibadah kepada allah.
Kehidupan di
pondok ini, bagaikan kehidupan di masyarakat kecil. Setidaknya aku bisa belajar
hidup dari sini, belajar dari segala perbedaan – perbedaan yang ada, dan
mengambil sikap di setiap kondisi.
Seiring
perjalanan waktu, suatu saat nanti aku akan meninggalkan pondokku ini untuk
terjun ke tangah-tengah kehidupan masyarakat kelak, berbaur dengan aneka ragam
pola kehidupan.
Harapanku, ku bisa tepat membawa diri berbuat
baik di bumi di mana kakiku berpijak.
Selama ini aku memang menyaksikan bahwa ku
telah berbuat baik, mentaati segala petuah dan nasehat kyaiku, menjalankan
segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya, namun yang aku khawatirkan
adalah, jika semua kebajikan itu
hanyalah di tengah-tengah milliu yang baik saja karena keadaan, sementara
ketika ku telah terjun ke dalam milliu yang berlainan, jadi berubah keadaannya.
Padahal, berbuat baik itu harus bisa kau
lakukan di manapun dan kapanpun. Pada saat itulah kepribadianku akan diuji, dan
di situlah kepribadianku akan dipecat atau dipertahankan oleh diriku sendiri
atau oleh masyarakat dengan segala norma-normanya. Itulah yang paling aku
khawatirkan. Akupun termenung menuliskan sebuah kata - kata sederhana tentang
perjalanan hidupku ini.
Aku takut jika derasnya gelombang
kehidupan di masyarakat kelak akan menyeret dan menjerumuskanku ke lembah
nista. Telah ku sadari bahwa orang baik yang bertempat di sampah
sekalipun akan berjasa dan mulia karena ia telah menyingkirkan sampah yang
mengganggu masyarakat. Namun sebaliknya, orang yang jahat sekalipun bertahta di
tempat terhormat ia adalah perusak dan pengacau masyarakat. Karena ia
sebetulnya adalah sampah.
Ketahuilah, bahwa kini, di abad modern ini, setan-setan dengan segala
bentuk dan macamnya telah bergentayangan di mana-mana dan untuk berkawan dengan
mereka, kau tak perlu belajar ataupun berlatih.
Dan godaan setan itu sungguh akan
memikat hatiku. Ia tidaklah akan berhenti pada sasaran tertentu, golongan
tertentu, dan juga waktu serta tempat tertentu. Maka ku harus berhati-hati dan berwaspada
terhadap itu semua.
Kini aku bahagia, telah menikmati kehidupan baru. Kehidupan yang
sebelumnya tak terlintas dalam fikirku. Dan kini aku ingin lebih baik dari masa
lalu. Bagiku, pengalaman adalah guru yang terbaik dan belajar dari pengalaman
sangatlah berharga bagiku. Hari ini haruslah lebih baik dari hari kemarin.
Kemarin adalah pengalaman, besok adalah harapan dan hari ini adalah kenyataan.
Dan saat ini, aku belajar banyak tentang kehidupan kepada kakakku dan teman –
temannya yang selalu siap mendengarkan curhatanku. Dan kedua orangtuaku yang
selalu memberiku semangat menjalani hidup ini. Dan tunggu kisahku
nantinya...